2.19.2014

Ignorance is a Bliss

This time we both know that there is no winner or loser. 
All I know for sure,
we deal with it,
 we forgive, 
but never forget.

I've told you, kid. 
Ignorance is a bliss.
Keep that in mind.

1.12.2014

ACSG 2014

After years I finally got to join the international events of ALSA, ALSA Conference Singapore 2014.  This was my first and last time.
Time had flown like a wind. AC had come to an end. I really enjoyed every moment of it. I just couldn't believe in this short period of time, we all quickly bonded, becoming close friends in a matter of days. We have become a family.
Thank you so much Kelly Zhang, Nur Hijazi Jaffar, Ashley Loh, Wayne Chan, Christie Long, Emma Gan, Jia Shun, Benjamin Teo, Hiren Jonas and Cheryl Tan for being such awesome caretakers. I really couldn't ask for better ones. You guys rock. Thank you Group 3 & 4 - Maritime Piracy for everything. Thank you, ALSA.
I'm gonna miss having crazy/random talks with you guys, exchanging ideas, telling stories and law/regulations about our own countries, teaching each other bad words in many languages, trying new foods, playing games, taking such lol pictures and videos, and enjoying every time we were together.
AC was definitely one of the best of my life, discovering Singapore and creating life-long friendships. 

There will always be a home for you here in Indonesia. Hope to see you guys soon.

Good bye, ALSA. 
Lovely gifts from the caretakers <3

Asian Law Students' Association Conference
Singapore 2014

12.19.2013

Patience

As if there is a visible line that shows someone's limit. Life would be easier. But life doesn't work that way. Have you seen a movie titled 'The Invention of Lying'? I had once imagined how this world work if we told every single thing that popped up in our minds, that would be no good. This world, our world, wants us to be honest. God always reminds us to be honest. The thing we have to learn is... how to be honest, with yourself, with people, without passing our limit first. 
Don't swallow words. Even though some things better left unsaid, let them out. Just this once. 
Help yourself.

12.02.2013

Cerpen


Seseorang bertandang ke mimpiku tadi malam. Bertanya dan memberikan ceramah yang aku hafal di luar kepala dan aku pahami betul intinya. Aku sudah berhenti bertanya mengapa kehadiranmu tetap terasa nyata tiap kali kamu mampir di mimpiku. Karena aku tidak tahu apa jawabannya. Aku pun heran, aku ingat betul terakhir kali kamu datang di sini, saat semuanya tidak lagi familiar.Terima kasih sudah mampir ke mimpiku. Aneh, dengan kamu hadir disana, rinduku terobati. Bukan kah harusnya sekian? Dan bukankah harusnya aku tidak perlu menulis ini? Padahal teknologi memudahkanku kiranya aku mau menghubungimu. Tapi mengapa malah teknologi mempersulit diriku sendiri dengan hanya melihat namamu saja aku sudah gemetaran?   
Mataku mengerling ke toolbar di sebelah judul post yang belum kutulis judulnya. Publish? Save?Kali ini otakku yang menang. Saved. Kalau hatiku ibarat manusia, mungkin dia mundur dengan tertunduk, kalah telak dengan si Otak. Sudah beberapa kali aku mencoba memainkan jemariku di puluhan angka, huruf, dan simbol di keyboard dengan mengeluarkan isi hatiku, dengan kata-kata yang kadang tidak cocok paduannya karena keterlibatan hatiku. Aku tidak mau dibilang pecundang. Tapi kurasa ceritaku, maksudku, cerita cintaku, bukan untuk konsumsi publik. Atau cuma aku yang tidak mau suatu hari dia tahu keberadaanku yang merindukannya. Dengan teknologi, sekali klik bukankah seluruh dunia sudah tahu? Sayangnya, seluruh dunia tidak tahu perasaanku kepada kamu. 
Teknologi mematikan mentalku. Aku tidak pernah tahu dengan menyapamu dengan satu kata, percakapan akan berakhir seperti apa. Aku hanya tidak mau kecewa dengan melihatmu membalas percakapan kita dengan satu kata. Aku takut. Ya, menurutku teknologi menakutkan.Entah bermula dari mana perasaan ini. Perasaan aku jatuh terbang. Aku mungkin terkesan menghindarimu. Entah mengapa bersamamu banyak kata mungkin. Kepastian hati menghantuiku. Aku selalu tidak suka zona abu-abu. Kita juga tidak tahu kemana waktu membawa. Aku menuliskan surat yang takkan kuucap kepadamu yang kusimpan sebatas draft saja, hingga detik ini. Ya, aku kalah telak. Dengan otakku sendiri.

Hai, pasti aneh ya baca tulisan gue di atas? Haha. Itu adalah penggalan cerita pendek yang tadinya mau gue ikut sertakan dalam suatu kompetisi menulis Rectoverso. Tapi..... mandek dan nggak sempat dilanjutin. Apa dikata gue cuma blogger yang nge-blog juga nggak rutin, sok-sok an pengen ikut kompetisi cerita pendek. Alhasil nggak selesai dan malah disimpen gitu aja di laptop. Dalam menulis cerpen gue terinspirasi dari beberapa cerita orang-orang yang pernah cerita sama gue dan pengalaman gue juga. Tantangan terbesarnya adalah gimana nempatin otak, kaki, dan hati di pihak yang pengen diceritain dan plotting ceritanya. Sepertinya gue memang masih harus banyak baca dan menulis buat nambah referensi. Duh, mendadak mencoba lupa skripsi belum dilanjutin. Sepertinya tulis-menulis cerpen ini ditunda dulu.
Semoga penulis Indonesia makin kece biar gue makin semangat bacanya dan belajar nulisnya haha. Have a blessed monday, people!

11.26.2013

Musim Hujan dan Ajang Akhir Tahun

Kalau aku pernah bilang sebelumnya aku memiliki memori fotografis, apakah kamu ingat? Di kota aku berdomisili setiap penghujung tahun udara memang seperti ini. Momen ketika aku memang menyibukkan diri agar akhir tahunku terasa bergulir cepat. 
Sesuatu yang berbeda di tahun ini. Porsiku beda dengan tahun lalu. Aku tidak lagi menikmati euforia ajang perlombaan di kampusku hingga akhir. Aku ingat betul bagaimana tahun lalu aku menghabiskan waktu berkeliling mengunjungi setiap acara yang dilombakan. Bagaimana aku menyempatkan diri menikmati, mendukung, dan peduli pada ajang ini disamping kegilaan salah satu mata kuliah wajibku yang cukup dramatis. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana aku bisa melewatkan tahun lalu.
Tahun ini berbeda. Perjalanan kami berhenti sampai disana. Perjuangan kami terpaksa terhenti dengan skor yang kurang memuaskan. Selalu ada faktor X yang tidak dapat dijelaskan dan harus kami terima. Mungkin memang bukan generasi ini yang berhasil membawa pulang medali. Ajang ini (semoga) akan menjadi perlombaan terakhirku.
Aku menyayangi keluarga ini. Aku terlanjur menyayangi kalian. Berjayalah RFC. Sekarang dan kemudian hari.

9.29.2013

Tanda Baca Tanya

Di awal umurku yang hampir menginjak 21 tahun ini, segala hal memang aku pikirkan dua kali, bahkan lebih. Aku takut salah langkah. Aku tidak mau suatu saat aku merasa menyesal. Beribu teori mungkin pernah kubaca. Alhasil, hanya puluhan langkah konkrit yang tidak seberapa.
Hidup itu untuk bertanya. Buat apa berasumsi kalau nara sumber ada depan matamu? Kamu hanya tinggal bertanya. Walau sebenarnya pertanyaan kadang punya tanggal kadaluarsa.
Mudah bagiku sekarang untuk bilang hanya tinggal bertanya. Benar, mungkin itu adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan dalam hidup. Tapi buat apa membuang banyak tenaga dan waktu ketika kamu bisa bertanya pertanyaan yang selalu ada di otakmu? Entah tanggapan apa yang muncul setelahnya, itu beda cerita. Satu hal lain yang aku pelajari di tahun ini: keberanian.

9.26.2013

Proposal Skripsi

Bulan ini aku bagai dikejar waktu. Proposal skripsi menjadi headline-nya. Segala kegilaan yang kualami bulan ini kurasa bukan apa-apa dibandingkan seberapa penuhnya otakku memikirkan bagaimana progres proposal skripsiku. Berita baiknya adalah proposalku sudah diterima Ketua Program Studi. Berita buruknya adalah aku menjadi tidak yakin dengan studi kasus milikku. Semoga pencerahan lekas datang. Dan... semoga semangat jangan hilang dulu. Setidaknya dalam waktu dekat ini.